Monday, April 27, 2009

Aha!

Aha!
Akhirnya bisa masuk lagi ke blog ini! cuma perkara kemalasan untuk memecahkan hal teknis sebenarnya, but i am so glad to be back and regain this blog!

posted by solilokui @ 1:37 PM   0 Comments

Wednesday, January 17, 2007

Eh, Masih Ada...

Iya, maksudnya ternyata dah lama ga diupdate blog ini masih ada toh ? Belakangan memang ada saat-saat harus ikut turun ke daerah binaan untuk ngasih pelatihan ke ibu-ibu kader Posyandu dalam program pendampingan revitalisasi posyandu. Karena daerahnya jauh-jauh,saya lebih menganggap ini rihlah, jalan-jalan daripada tugas. Dan memang seru. sejauh ini baru separuh daerah binaan yang saya kunjungi. kebanyakan daerah yang kami bina berlokasi di ujung tangerang, ujung bekasi, ujung bogor, ujung jakarta, yah yang ujung-ujung kayaknya. mostly tipikalnya adalah tipikal kemiskinan pedesaan walaupun ada juga yang poor urban.

Yang di desa seperti Teluk Naga dan Tambelang adalah daerah-daerah yang subhanallah indahnya. Menuju kesana, walaupun jalannya susah karena ompong aspalnya atau bahkan belum diaspal selalu membuat saya terpikir lama-lama soal kapan yah petani kita bisa kaya dan sejahtera. Kadang,sepanjang perjalanan, kelihatan bahwa irigasinya tidak terawat, atau lahan pertanian terkonversi jadi komplek perumahan baru. Harga beras sekarang sedang mahal, tapi ongkos produksinya pun mahal sehingga keuntungan yang diperoleh petani pun sebenarnya tidak seberapa. tingkat kehidupan mereka pun akhirnya ya segitu-gitu aja alias miskin. di Teluk naga,listrik bahkan belum masuk, mereka mendengarkan radio hanya lewat bisa lewat aki, di Kronjo,anak kecil buang hajat di selokan karena katanya ongkos pembuatan MCK terlalu mahal. Dan ini semua di daerah-daerah yang hanya beberapa kilometer dari jakarta jauhnya.

Saya pernah membaca tentang Revolusi Hijau yang dilakukanIndia. Betapa pemerintahnya mendukung dunia pertanian dengan kebijakan dan investasi yang tidak tanggung2 baik dalam riset maupun sarana. Mereka membeli satelit yang dapat memperkirakan musim tanam secara lebih akurat, sehingga kerugian pun dapat ditekan.

kapan ya?
karena kalau sudah tua kayaknya seru jadi petani (yang kaya dong),terus punya anak, punya cucu, yang datang liburan ke kakek neneknya, maen ke sawah, nungguin kambing lahiran, bakar bebek, ayam, soang sambil menikmati jagung dan sayuran dari kebun sendiri.

kapan ya?

posted by solilokui @ 11:23 AM   10 Comments

Saturday, December 09, 2006

some good news

Alhamdulillah, hari ini dapat email dari professor saya, mengabarkan kalau permohonan dana yang saya ajukan kepada sebuah yayasan di Belanda untuk program ekspansi DOTS TB dikabulkan. Anggaran yang diajukan sih 9000 euro dan yang dikabulin 5000 euro. Lumayan, walaupun kelihatannya sedikit, tapi itu sudah membantu untuk menutupi celah utama yang jadi potensi masalah gagalnya penanganan masalah TB. Dana utama dari program ini sebenarnya datang dari Flobal Fund Aids-Tuberculosis-Malaria (GF ATM), tapi dalam aplikasinya dilapangan ada beberapa permasalahan yang muncul diluar skema pembiayaan, jadi kudu nyari sendiri lah sisa-sisanya. Mungkin juga karena dana GF ATM ini datang lewat skema pembiayaan pemerintah, jadi untuk sekedar ngajuin anggaran supaya pasien-pasien TB yang duafa itu punya ongkos untuk ambil obat dari rumahnya ke klinik-klinik LKC, birokrasinya minta ampun rumitnya.

Yang jelas senang, mudah-mudahan programnya terus berhasil. Dana yang masuk itu insya Allah peruntukkannya adalah untuk pemberian makanan tambahan bagi pasien TB, subsidi ongkos transport dan produksi media untuk penyebarluasan info lewat penyuluhan soal TB (walaupun ga banyak kali yah).

ada yang berminat untuk berpartisipasi dalam pemberantasan TB ?

posted by solilokui @ 5:37 AM   4 Comments

Sunday, November 05, 2006

back to work

Seminggu ini sudah kembali ke lapangan. Beberapa teman diluar mempertanyakan keputusan saya untuk kembali lagi bergabung di lembaga non profit macam ini, kembali mengurusi persoalan kesehatan rakyat miskin. Diluar, ada banyak prospek yang lebih menjanjikan buat seorang MPH daripada kerja sosial mengurusi orang miskin macam ini, kata mereka.

But hey, stubborn is my middle name (selain baik hati dan tidak sombong, tentu saja)

Dulu niatan belajar muncul dari tempat ini, dan saya belajar dengan harapan ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk aset ummat yang belum terkelola maksimal ini. Dan niatan itu harus dituntaskan.

Jadi minggu ini, setelah presentasi awalan kemarin, mulai diisi dengan menyusun konsep cetak biru promosi kesehatan di departemen saya, mulai dari struktur, analisa dan evaluasi semua program yang telah dilakukan, target,tahapan kerja, revitalisasi sumber daya berupa relawan berjibun-jibun yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, di kepala sudah ada konsep yang rasanya sudah gatal ingin dibagi-bagi untuk didiskusikan. Bagaimanapun, re-orientasi arah kebijakan dari kurative ke preventive secara konsep tidak akan menghasilkan outcome maksimal selama konsep karitas dengan 100% kurative tidak dilihat ulang.

Dalam proses diskusi dan obrolan santai dengan teman-teman akhirnya tercetus ide dari mereka untuk setidaknya ada sesi morning coffe with consultant (ceritanya consultant nya saya, walaupun boong banget). Lucu juga, karena awalnya saya agak sedikit menahan diri. Ora elok gitu loh, kalau anak piyik model saya yang mentang-mentang baru kondur dari luar negeri langsung ceramah bal,bla,bla sama mereka yang dulu sudah kuliah di fakultas kedokteran waktu saya masih ngemut es lilin di bangku es de.

Tapi sebenarnya, dalam proses kuliah kemarin tiap kali saya diperkenalkan dengan cara pandang baru, saya selalu terpikir bahwa mestinya yang hadir ikut mendengarkan adalah dokter A, atau dokter B atau yang lain.

Sekarang teman-teman ini meminta saya untuk mentransfer apapun yang menurut saya baik untuk mereka ketahui, janjinya adalah ada iklim terbuka terhadap segala ide baru sehingga organisasi kami bisa jadi learning organisation. Jadi buat saya , sesi sharing antara saya dan teman-teman lebih merupakan sebuah transfer informasi kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dengan sanad dan matan yang insya Allah sahih he he he.

Anyway, buat saya sendiri entah itu di Belanda dalam sebuah dunia akademik bernama universitas, atau di organisasi kecil macam ini dengan orang-orang yang kaya pengalaman lapangan, penuh semangat dan idealisme, dua-duanya sama-sama proses belajar. menyerap yang terbaik dari apa yang mereka punya. Proses belajar kita selamanya ibarat buku yang tidak pernah akan selesai ditulis, sampai akhirnya kita tiba di halaman terakhirnya.

posted by solilokui @ 9:54 PM   5 Comments

Thursday, October 19, 2006

Mak Nyuuuuus.....!

Suatu siang, dalam suhu Jakarta musim kering, bulan puasa pula, apalagi yang paling enak kalau bukan klekeran dikarpet depan televisi. Bulak-balik dari satu stasiun ke stasiun yang lain akhirnya pilihan saya jatuh pada salah satu acara favorit saya Wisata Kuliner di Trans TV. Pembawa acaranya bapak-bapak berwajah hangat bernama Bondan (maaf ya pak, lupa nama lengkapnya), beliau juga dikenal sebagai salah satu pengamat kuliner Indonesia.

Siang itu, melihat si Bapak bolak-balik menghadapi mangkuk, piring berisi makanan-makanan lezat, menyeruput sop konro sambil tak lupa berkata “ehmmm.. mak nyuuuus” rasanya saya rela deh menjual ijazah MPH saya itu buat menggantikan posisi dia. Walaupun sempat berdebat dengan kakak saya tentang apakah pak Bondan itu hanya sekedar icip-icip segala makanan yang serba berlemak, bersantan dan tinggi kolesterol itu, ataukah dia makan betulan semua itu (yang kemudian membuat saya berpikir pasti dia harus bayar premi asuransi kesehatan yang mahal karena profesinya yang beresiko tinggi terhadap ancaman diabetes dan lain-lain) tetap menyenangkan melihatnya berkeliling memperkenalkan makanan-makanan khas indonesia mulai dari yang paling sophisticated dengan lebih dari 11 jenis bumbu (Kolonel Sanders, ayam goreng anda tidak terlalu mengesankan untuk ukuran orang Indonesia dalam hal bumbu) sampai makanan-makanan jajanan pasar yang sederhana seperti colenak.

Dulu kalau sedang makan bersama Ayako, salah satu obyek narsisme saya soal masakan (karena apapun yang saya masak pasti dia komentari dengan antusias sambil tak lupa ber ‘eeehm, aaah, uuuh .. this is goood’) sambil makan, obrolan favorit kami tentu saja juga tidak jauh dari masakan.

Saya percaya bahwa karakter sebuah bangsa bisa juga terbaca dari masakannnya (selain-kata teman saya- dari media massa, halte, terminal sampai tong sampahnya). Masakan Indonesia selalu menggunakan banyak bumbu, mengingat kondisi alam yang kaya sehingga eksplorasi terhadap segala sumber makanan memiliki banyak pilihan.

Sama halnya dengan masakan-masakan dari daerah-daerah Asia lainnya seperti Malaysia, Thailand atau India. Bahan dasar masakan biasanya akan di-marinade dengan segala macam bumbu itu hingga kadang sampai kehilangan watak dasarnya. Ingat saja gudek yang rasa nangkanya sudah tak terasa lagi akibat proses pemasakan yang over cooked hingga nir-gizi.

Menurut saya sih, ini pasti juga berkaitan dengan kondisi dimana Indonesia sangat kaya dengan sentuhan kultural dari bangsa lain. Akulturasi banyak terjadi, melahirkan budaya baru yang kadang menghilangkan karakter lama. Dalam hal ini, Indonesia itu memang semestinya bisa sedikit ‘nyombong’ sebagai bangsa yang terbiasa dengan perbedaan ‘dari sononya’ dan punya local genius yang teruji dengan menyerap, kemudian melahirkan yang baru (sst, soal terbiasa dengan perbedaan, kita tidak bicara soal realita saat ini yah)

Orang Jepang senang memasak dengan bumbu minimalis, karena yang diutamakan adalah kesegaran dan rasa asli bahan dasar. Pernah baca Toto Chan yang disekolahnya diwajibkan membawa bekal dengan rumusan ‘sesuatu dari gunung dan sesuatu dari laut’? banyak makanan yang dicontohkan hanyalah berupa sayuran yang digosok dengan garam, atau diolah dengan bumbu yang sederhana.

Begitu pula dengan masakan Belanda yang menggunakan bumbu sederhana bahkan nyaris membosankan (garam,merica,bawang bombay, krim kental). Rata-rata masakan Barat kebanyakan bahan dasarnya dipisah dari sausnya sehingga daging ya tetap berasa daging, ikan tetap berasa ikan, asparagus tetap berasa asparagus, tinggal kemudian cocolan sausnya yang akan memberikan rasa berbeda. Tapi anda tetap mengenali bahan dasarnya.

Apa ini cerminan dari karakter mereka yang secara umum homogen secara budaya, agama, sejarah, sehingga agak menjaga jarak terhadap infiltrasi budaya lain ? rasa lain ?

Jadi semakin heteregon bumbu yang dipakai dalam kuliner suatu bangsa, semakin heterogen nilai dan budaya dalam bangsa itu dan sebaliknya ?

Ayako bilang orang Jepang sangat homogen.

Masakan Belanda dan negara-negara dengan empat musim kebanyakan mengikuti musim. Kata teman saya, stampot (beginikah menulisnya?) dan sup-supan cenderung lebih banyak dimakan pada saat musim-musim dingin dimana orang perlu banyak energi untuk mempertahankan suhu tubuh secara normal. Walaupun kemudian kalau saya pikir-pikir lagi itu sama saja dengan makanan sepanjangn tahun, karena Belanda memang dingin adanya.

Dilihat dari waktu proses pemasakan, masakan Indonesia lebih banyak makan waktu dibanding masakan Belanda (saya pernah membuat kue lapis dari jam sebelas siang dan baru selesai pukul empat sore, duh itu pasti hari yang sangat-tidak-ada-kerjaan). Orang Indonesia tidak pernah punya waktu dimana matahari hadir begitu singkat hingga semua harus dikerjakan secepat dan seefektif mungkin. Apa itu juga karena kita hidup dalam suhu yang relatif nyaman dan konstan sehingga selalu ada waktu untuk masak ?

Orang Indonesia juga mengenal makanan-makanan dengan aspek religi. Tumpeng, bubur merah-bubur putih, nasi kuning, adalah masakah-masakan yang agak sulit dimakan tanpa diembel-embeli “dalam rangka...”. contohnya seperti tumpeng yang dimasak ketika orang-orang Dieng ingin meruwat dan memotong rambut anak gimbal. Orang Belanda juga punya makanan dengan aspek ritual walaupun tidak banyak. Ada yang namanya beschuat, biskuit yang ditaburi cokelat bagi ibu yang baru melahirkan bayi. Cokelatnya merah jambu jika bayinya perempuan, dan biru jika bayinya laki-laki.

Saya pikir semakin banyak makanan beraspek ritual dan religi semakin menunjukkan peran agama dan kepercayaan bagi sebuah bangsa. Jadi sebaliknya, semakin sedikit, bisa jadi semakin sekuler suatu bangsa.

Apakah cara penyajian makanan juga menunjukkan kerumitan (agak tidak berselera menggunakan ‘ketinggian’) sebuah peradaban ? contohnya, konon menurut Montgomery Watt, orang-orang Arab di Spanyol pada masa kejayaan Abbasiyyah lah yang mengenalkan seni dan aturan memisah-misahkan makanan dalam porsi dan kategorisasi yang kemudian dikenal saat ini (starter,appetizer,main course,dessert). Tokohnya bernama Ziryab yang hidup di Cordova tahun 822. Dia juga yang membagi pakaian dan perhiasan menurut musim yang kemudian ditiru oleh orang Eropa.

Jadi ketika anda makan sebuah makanan yang dihidangkan dalam bungkus daun talas, anda bisa memperkirakan seberapa rumit peradaban masyarakat yang bersangkutan (dan saya orang yang percaya sederhana tidak berarti rendah).

Anda tidak perlu setuju dengan semua yang diatas itu. Tokh kita bicara dalam kerangka budaya yang sifatnya terbuka terhadap segala interpretasi. Tapi salah satu yang saya suka dari acara model wisata kulinernya pak Bondan ini adalah tak peduli sesederhana apapun sebuah masakan, jangan pernah meremehkannya karena didalamnya kita bisa membaca diri kita.

Tak perlu malu makan colenak, combro dan segala makanan rakyat yang berbunyi aneh dan tidak gaya. Selain itu kita, seperti kata Pak Bondan, rasanya “ehm.....mak nyuuuuus!”

Ehm, ngomong-ngomong... buka puasa masih lama yah ? (he he he he)

posted by solilokui @ 10:56 PM   4 Comments

Wednesday, October 11, 2006

jelang 10 hari terakhir

Setiap penemuan akan pengetahuan, entah apakah itu mengenai agama sebagai jalan hidup ataukah pengetahuan mengenai hukum yang mengatur alam ini, akan mengantar kita pada kenyataan bahwa segalanya memiliki keterkaitan yang erat.

Ibaratnya taman yang padat dengan berbagai tumbuhan. Diatas permukaan, tampaknya setiap bunga dan semak-semak menempati sepetak tanah milik mereka masing-masing, namun begitu kita menggali ke bawah tanah, maka yang ada adalah akar yang saling menjalin dan terkait satu sama lain.

Buah apel yang jatuh ternyata punya kaitan mulai dari bulan yang tetap setia di orbitnya mengiringi bumi hingga keteraturan konstelasi tata surya.

Ketika kita memulai berdoa dengan memuji Allah SWT dan mengakhirnya dengan alhamdulillah kita juga bicara tentang kerendahan hati, bahwa tak ada sekejap pun dalam kehidupan manusia tidak membutuhkan kemurahan Tuhan, dan karena itulah kalaupun akhirnya doa yang kita panjatkan tidak diperkenankan, kita akan tetap memujinya karena kemurahan kasih sayang Allah yang telah kita terima.

Ramadhan sudah lewat dari pertengahannya. Dalam beberapa hari kedepan kita sudah mulai memasuki sepuluh hari terakhir. Hari-hari dimana dahulu Rasulullah lebih bersungguh-sungguh lagi menjalani Ramadhan. Di hari-hari itu harapan dan kekhawatiran bercampur jadi satu. Semoga setelah berusaha sebaik mungkin mengisi ramadhan dengan amal ibadah semaksimal yang bisa kita lakukan, akhirnya kita akan masuk dalam mereka yang memperoleh kemenangan, semoga letih dan penat akan berefek pada akhlak yang lebih baik kepada Allah, kepada manusia dan lingkungan sekitar. Semoga ketulusan kita, prasangka baik kita bahwa Allah itu dekat dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita akan membuat doa-doa yang kita panjatkan layak untuk dikabulkan.

Ketika usaha sudah dijalankan, ketika doa sudah dipanjatkan, ketika sebagai manusia kita sudah menjalankan ikhtiar dalam batas yang bisa dilakukan, maka yang kemudian dilakukan adalah bertawakal, menjadikan Allah sebagai ‘wakil’ terhadap segalanya. Karena tawakal bukan berarti penyerahan mutlak kepada Allah tanpa didahului dengan usaha yang manusiawi.

Boleh jadi kita salah melangkah, boleh jadi keputusan-keputusan yang kita buat tidak tepat, namun dengan menjadikan Allah sebagai wakil kesedihan itu tidak akan berlarut-larut karena kita yakin bahwa sebagai wakil, Allah telah bertindak dengan sangat bijaksana dalam menetapkan segalanya.

Maka ketika kita telah melakukan bagian kita sebagai manusia, ramadhan adalah momen untuk mengingatkan bahwa kita memiliki Allah sebagai sebaik-baik wakil tempat kita menyerahkan segala urusan.

Dan kepada-Nya dikembalikan segala persoalan, maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya (11:123)

posted by solilokui @ 9:51 PM   0 Comments

Friday, September 22, 2006

New Guy in Town

Akhirnya kemarin presentasi konsep yang saya buat tentang promkes didepan direktur dan teman-teman lainnya. Singkat dan sederhana, tanggapannya alhamdulillah positif. Tapi tidak menyangka kalau si bapak juga memberi komentar bahwa menurut dia sebaiknya konsep yang saya ajukan di teruskan juga untuk jadi research proposal PhD. Saat itu cuma bisa mesem-mesem nggak jelas "Itu yang saya pikir, Dok. Alhamdulillah kalau Dokter punya pemikiran serupa."

Saya lupa kalau direktur baru ini juga aktif di dunia akademik, jadi punya visi juga untuk itu. Keseluruhan kesan yang dia berikan dalam tanggapan-tanggapannya sedikit banyak menghapus persepsi saya terhadap makhluk-makhluk bernama dokter yang biasanya feodal, konservatif dan tidak demokratis yang tahunya cuma hal-hal klinis dan menutup mata terhadap aspek-aspek lain diluar itu.

Duh, ini stereotyping namanya yang kalau tidak disikapi dengan hati-hati bisa jadi diskriminasi. yah, tapi sulit juga menghilangkan persepsi semacam itu kalau interaksi pertama dengan profesi ini kesan itulah yang timbul. Tapi manusia tentu saja tidak sama. Kalaupun ada pengaruh dogma profesi dan norma peer group, dia juga manusia yang hidup bersama manusia lainnya. Banyak juga kan, kalau diingat-ingat, bertemu dengan mereka yang datang dari profesi ini namun tetap punya karakter cerdas, terbuka dan cukup rendah hati untuk mendengarkan.

Oh ya tentang PhD, masih dua tahun lagi sebelum saya bisa mengajukan aplikasi untuk ini. sementara itu masih banyak hal-hal penting lainnya yang harus dipelajari dan dilakukan

Jadi ya sudah, mengalir sajalah.

*rasanyalagiplegmatisabis*

posted by solilokui @ 8:01 PM   7 Comments

Wednesday, September 20, 2006

Pilihan-pilihan

Siang itu saya dan Hamzah berjalan kaki bersama menuju perpustakaan.
"Hamzah mau pilih jalan lewat mana? kalau lewat jembatan Hamzah bisa lihat bebek dan angsa, tapi kalau lewat jalan besar, Hamzah bisa lihat banyak mobil."
mata bulatnya terlihat sedang menimbang-nimbang.
"Hamzah pilih jalan besar aja, ah!" pilihnya.
dan kami pun terus berjalan.

Sejak kecil, kita hidup dengan pilihan-pilihan. Orang tua kita, entah disadari atau tidak mengajarkan ketrampilan hidup dengan membuat kita untuk melakukan pilihan. Mau pakai baju warna merah atau biru ? mau belajar setelah main atau mau belajar dulu baru main ? belajar memilih dari hal-hal yang sederhana karena semakin kita dewasa, pilihan itu makin sulit dan makin rumit.

Kita orang-orang Islam di ajarkan bahwa kitalah yang punya kemampuan untuk merubah nasib kita. Dari awal semua dibekali potensi untuk memilih jalan takwa atau fujur. Ingat cerita tentang seorang penjahat yang melakukan 99 kali pembunuhan ? kemudian dia bermaksud bertobat dan atas saran seorang pendeta, dia pergi ke kota yang lebih baik namun dalam perjalanan akhirnya meninggal. Dan malaikat pun akhirnya memutuskan bahwa dia berhak atas syurga dan ampunan Allah karena pilihannya.

Maka kita saat ini-atau untuk ukuran yang lebih abadi,kita diakhirat nanti- adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu. Pilihan-pilihan kitalah yang membuat sang waktu mengungkapkan rahasia yang dipendamnya.

Lalu sebagai makhluk sosial pilihan-pilihan kita juga membawa dampak yang lebih luas pada lingkaran hidup orang lain. memilih pendamping hidup yang baik untuk kita saat ini, jadi hadiah yang indah untuk keturunan kita dimasa depan. Mungkin karena itu Rasulullah menyatakan bahwa salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah dengan memilihkan ayah atau ibu yang baik. Memilih berhutang banyak-banyak, semena-mena terhadap alam adalah pilihan yang menyulitkan bagi mereka yang hidup setelah kita. Jika semua kerusakan itu diperkirakan muncul 500 tahun lagi, apakah kita tidak punya solidaritas terhadap mereka yang menjalani hidup pada saat itu ?

Lalu apa yang kita gunakan untuk memilih ? saya pikir tentu semua perangkat yang Allah berikan buat kita dalam menjalani hidup. Mulai dari akal untuk fungsi logika dan rasionalitas hingga qalbu. istafti qalbak kalau kata Rasululllah SAW. minta nasihat pada hati mu dan setelah itu biarlah Allah yang menjadi wakil segala urusan kita.

wallahu a'lam bisshawab

posted by solilokui @ 10:32 PM   0 Comments

Monday, September 18, 2006

Macam-macam Ketika Sudah Sampai....

Sudah kembali ada di tanah air lebih dari dua minggu yang lalu. Waktu masih di Maastricht dan seorang teman di Jakarta bilang “duh, motor tuh sekarang disini udah kayak sampah! Ada dimana-mana!” saya berusaha keras membayangkan. Karena setahun lalu saja saya sudah berpikir bahwa motor itu sudah seperti sampah, berarti sekarang tambah parah dunk?!

Dan ternyata memang dunk! Dulu rasanya dirumah saya yang memang terletak di pinggir jalan, masih ada saat-saat sepi dan segar buat sekedar lari pagi atau bersepi-sepi ria. Sepi itu penting loh. Sama pentingnya seperti tidur, puasa, dan segala macam pause yang memberi kita kesempatan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri atau dengan Tuhan.

Lah sekarang? Tidak siang tidak malam, suara motor itu kok yah nggak berhenti lalu lalang. Sepi itu semakin larut datangnya dan semakin pagi perginya. Ini juga si Adek pake beli motor segala! Apa nggak baca soal kondisi udara di Jakarta yang memburuk dan bla,bla,blanya ??! Tapi niat untuk ngedumel jadi padam waktu dia bilang pakai uang jajan dan bisnis kecil-kecilan ala mahasiswa yang dikumpul-kumpul supaya bisa membayar motor yang membawanya lebih cepat sampai ke kampus.

Ah, ga tega lah merusak harga diri laki-laki kecil yang sedang belajar dewasa, yang sedang belajar perlahan-lahan untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya.

Kembali lagi ke urusan motor. Bukan hanya kebisingan dan kontribusinya terhadap polusi udara di Jakarta yang makin naudzubillah, tapi kelakuan si empunya yang masya Allah suka bikin urut dada. Aduh, apa nggak mau pulang ke rumah dengan utuh itu orang?

Jadi punya motor itu salah ? loh… saya kan nggak bilang begitu. Siapapun akan memilih untuk sampai secepatnya dengan biaya yang murah dibandingkan harus bayar ongkos transportasi umum yang makin mencekik plus segala ketidaknyamanannya. Kalau sudah begitu apa mau dilarang orang yang ingin beli motor ? terjebak macet, tua di jalan itu cost nya secara makro ekonomi kan besar juga. Rugi dari aspek waktu, produktifitas dan meningkatkan level stress. Siapa yang bisa bekerja dalam kondisi seperti itu ?yah orang Indonesia doong...

Kalau buat orang awam seperti saya berpikirnya kan sederhana, kenapa tidak dinaikkan saja pajak kendaraan bermotor itu, parkirnya juga, dinaikkan sampai orang malas untuk punya mobil, lalu kompensasi dari pajak tinggi itu di alokasikan untuk perbaikan transport umum, ya busway lah, monorail lah, pedestrian lah, kalau perlu buat jalur khusus untuk kendaraan roda dua seperti motor dan sepeda. Jangan lupa jalur hijaunya diperbanyak dong Pak Gubernur, jangan lah semua pohon dipotong habis untuk jadi lahan parkir seperti di kampus saya di depok itu. Sekarang dimana-mana serba panas. Sungai dan kali kecil tidak usah ditanya lagi nasibnya.

Mall di mana-mana juga bertambah banyak. Duh, apa tidak dipikir2 dulu yah waktu mengeluarkan ijin pembangunan mal-mal itu. Pastinya kan ada perhitungan dalam skala berapa ratus ribu, masyarakat itu butuh pusat perbelanjaan. Toh, kan bukan cuma mall yang dibutuhkan, tapi juga perpustakaan, lapangan bola, tempat bermain, museum lah kalau mau sedikit belajar dari masa lalu, atau sekedar taman kecil dan bangku nyaman tempat orang bisa duduk dan ...ya itu, bersepi dan berdiam ria.

Ah, jadi teringat pada Maastricht. Pada pagi-pagi langka, dimana udara cukup hangat bersahabat dan saya bisa lari pagi, menyusuri sungai. Pada sungai-sungai kecil dimana ada bebek dan angsa liar tempat saya suka mengajak Hamzah, anak host family saya disana yang berusia 4 tahun, untuk main dan memberi makan bebek-bebek itu sambil bercerita tentang malin kundang. Jadi, kalau ada hal yang saya rindukan dari Maastricht maka jawabannya adalah pada pohon, pada burung, kelinci dan sungai besar yang terjaga.

Mungkin selalu begitu. Ketika Allah memberi kita sedikit, kita akan lebih berhati-hati dan menyadari bahwa setiap persegi tanah yang ada begitu berharga. Dan ketika Allah melimpahi kita dengan banyak hal, jika tak punya hati dan akal, kita akan jadi lebih mudah untuk bersikap abai karena tokh masih ada banyak yang kita punya.

Menjelang bulan Ramadhan, Indonesia saat ini masih menjalani musim kering. Ah, betapa beruntung dan betapa senangnya bisa memasuki bulan Ramadhan dalam kondisi yang tenang. Memasuki Ramadhan bersama mereka yang senantiasa mengingatkan betapa bulan ini begitu istimewa sehingga layak di nanti.

Di beberapa tempat,banyak orang tentunya butuh upaya lebih keras untuk berkonsentrasi memusatkan hati pada Ramadhan sementara pada saat yang bersamaan, rumah, ladang bahkan makam terendam lumpur panas Lapindo.

Semoga Allah yang Maha Lembut memberikan kita kekuatan untuk meraih keberkahan Ramadhan.

posted by solilokui @ 7:41 PM   1 Comments

Thursday, August 31, 2006

Terakhir sebelum pulang...

"Jangan nangis, jangan nangis" katanya, tertawa dengan air mata membayang dipelupuknya.
"Nggak, nggak nangis. siapa yang nangis?" kata saya galak sambil memicingkan mata saya. kemudian kami berpandangan sesaat dan akhirnya tergelak dengan air mata meleleh di pipi masing-masing.

Lalu kami sama-sama saling membelakangi berusaha menyembunyikan air mata. Tapi akhirnya, ah sudahlah... apa yang salah dengan air mata. Kami akhirnya berpelukan, dalam hati saya ingin berkata "jadi anak baik yah, jadi muslim yang baik, jaga mama jaga papa, jaga nunu. berusaha sekuat mungkin jadi muslim yang baik. semampu kamu. sesulit apapun, tak peduli sedikit apapun yang bisa kamu lakukan untuk itu, yang terpenting kamu adalah seorang gadis muslim. ingat itu..." tapi yang keluar hanya ucapan "brave meisje..."dan dia tergelak, seperti yang selalu dilakukan tiap kali saya mengatakan sesuatu dalam bahasa belanda.

Beberapa malam sebelumnya dia menginap dikamar saya. Paginya saya ajak dia membawa kamera menyusuri sungai Maas, menyeberangi jembatan, ke taman, ke parit ke speeltuin. Menunjukkan museum, perpustakaan, dan mengoceh tentang Maastricht dan Uni Eropa sampai soal sekolah dan anak cowok yang dia suka. Waktu itu ketika kami sama-sama sedang berayun-ayun di menara tali dia bilang "tante, kalau tante datang lagi... mungkin Laura sudah besar sekali yah.." saya meringis. "Mudah-mudahan tidak terlalu besar sekali."

Saya 26 tahun dan dia 10 tahun. Tapi saya tersentuh waktu chatting terakhir kami, dia berkata
dia:"tante itu teman Laura..."
saya: (terharu) "kamu juga teman tante. jangan lupa ambil sepeda dirumah, ya schat"
dia: "insya Allah"

Ah, gadis kecilku... semoga Allah menjaga diri dan jiwa kita.

posted by solilokui @ 1:37 AM   2 Comments